Ratusan Naskah Kuno Ditemukan di Tumang, Cepogo, Menjadi Jejak Sejarah dan Kekayaan Intelektual Desa

Cepogo – Sebuah temuan bersejarah kembali mengangkat nama Desa Cepogo di tingkat nasional. Ratusan naskah kuno ditemukan di sebuah rumah kosong milik Cipto Raharjo, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Cipto, di Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali.

Temuan ini menjadi perhatian para akademisi dan pemerhati budaya karena tidak hanya menyimpan nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga mengungkap sosok Mbah Cipto sebagai seorang cendekiawan, budayawan, sekaligus pengusaha batik pada masanya. Berdasarkan hasil kajian awal, Mbah Cipto diketahui memiliki kemampuan menguasai beberapa bahasa, di antaranya bahasa Jawa, Indonesia, Belanda, Inggris, dan Arab. Kemampuan tersebut menunjukkan luasnya wawasan serta jejaring intelektual yang dimiliki pada masa itu.

Ratusan naskah yang ditemukan diperkirakan berasal dari rentang waktu 1917 hingga 1950-an. Koleksi tersebut memuat beragam topik, mulai dari catatan mengenai batik, kitab-kitab keagamaan, karya sastra Jawa, hingga berbagai tulisan yang merekam pengetahuan, pemikiran, dan kehidupan masyarakat pada zamannya. Keberagaman isi naskah menjadikan koleksi ini sebagai sumber informasi yang sangat berharga bagi penelitian sejarah, budaya, pendidikan, maupun perkembangan industri batik di Indonesia.

Para filolog yang melakukan penelusuran menyebutkan bahwa penemuan ini tergolong langka, karena seluruh koleksi berhasil dihimpun dan disimpan oleh satu orang. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya minat Mbah Cipto terhadap ilmu pengetahuan, literasi, dan pelestarian warisan budaya. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa Desa Cepogo sejak dahulu telah memiliki tokoh yang berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Sebagai langkah pelestarian, para peneliti mengusulkan agar seluruh naskah dilakukan digitalisasi guna menjaga isi dan kondisi fisiknya dari risiko kerusakan akibat usia maupun faktor lingkungan. Selain itu, koleksi tersebut diharapkan dapat dikelola menjadi sebuah perpustakaan atau pusat dokumentasi naskah kuno, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pelajar, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati budaya sebagai sumber belajar dan penelitian.

Pemerintah Desa Cepogo menyambut baik temuan bersejarah ini sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki desa. Warisan intelektual seperti ini diharapkan dapat terus dilestarikan melalui kolaborasi antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan berbagai pihak terkait, sehingga nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Temuan ratusan naskah kuno di Tumang menjadi pengingat bahwa Desa Cepogo tidak hanya memiliki potensi alam, seni, dan budaya, tetapi juga menyimpan jejak sejarah serta khazanah intelektual yang sangat berharga. Dengan upaya pelestarian yang tepat, warisan ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi, memperkuat identitas budaya lokal, sekaligus mendukung pengembangan Desa Cepogo sebagai desa yang kaya akan sejarah, budaya, dan pengetahuan.